Selasa, Oktober 31, 2006

Nunggu lagi, nunggu lagi...

aku lagi gelisah, ni.. coz aku gi nungguin dosen. something happen with my skripsi. sedih deh... dah sampe bab 4, sayang kalo harus diubah dari awal. sebenernya ada jalan keluar tanpa harus revisi dari awal lagi, masalahnya apakah dosenku sepakat dengan cara itu. nah, searang aku baru mo nyoba meyakinkan beliau... wish me luck!!!! pliisss....

btw, kemaren siang aku liat berita katanya tanggul lumpur panas yang nyaris penuh itu kemungkinan akan meluap jika turun hujan. padahal hujan dipredisikan turun sekitar akhir november atau awal desember. kalo aku rasa itupun udah meleset dari perkiraan semula yang dibilang mungkin bulan oktober. kapanpun, mungkin ini kebaikan Tuhan yang menunda hujan turun supaya ada jalan keluar lebih dulu untuk mengurangi masalah banjir lumpur panas. semoga ada...

aku rasa kalo kemaren2 Bakrie group dapat income yang gede dari perusahaannya yang ini, sekarang berapapun g bakalan nutup untuk masalah ini. bukan karna mereka g melakukan apa2, tapi karna berapapun g akan nutup. yah... kalo misalnya dia orang Jepang, orang yang paling bertanggung jawab pada masalah ini mungkin dah harakiri. mungkin....

Posted by nadia at 08:05:33 | Permanent Link | Comments (4) |
Komentar
1 - Hi .. ^_^
aduh ... akhirnya ketemu juga via cyber sama kamu
tahu ga, perlu perjuangan yg amat kerassss untuk bisa mendapatkan kembali catatan alamatmu ini lho.. soalnya kemaren kamarku persis seperti kapal yg abis kena hantam ombak tsunami .. alias ketelingsut entah kemana, biasa udah jadi sifat cowok he.. he.. he.. ( jgn terjebak di gender lho .. )

hmm..
keren juga blog mu
semacam tempat suci kali ya buat kamu, tempat yg netral n setia " mendengarkan " apa adanya dirimu ..

memang, aku sendiri terkadang susah untuk menemukan seseorang yg mau " mendengarkan " dalam keseharianku ..
karena orang lebih menuntut ingin didengarkan, heran ya .. padahal menurut aku manusia dikarunia dua buah telinga yg suci agar mampu mendengarkan segala sesuatu yg ada disekelilingnya termasuk " suara - suara " sang maha suci yg selalu hadir dalam detail yg kita anggap sepele

aduh.. koq aku yg jadi cerewet sie ..
ha.. ha.. ha..

I just want to say ..
U r so nice .. person

keep fighting girl ..

Bhe (Comment this)

Ditulis oleh: Bayu at 2006/11/19 - 11:21:41
2 - "Jangan benci aku, mama...!!!"


Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak
ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang
lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4
tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang
yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan
membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung
kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya
tinggalkan begitu saja.
Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual
untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah
berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa.
Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad,
sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati,
berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.
Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama
putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan
tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah
saya.
Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
cekali pada Mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya
menahannya,
"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"

"Nama saya Elic, Tante."

"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai
perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat
itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi
jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba
bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan
menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan
Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang
telah saya lakukan dulu." tetapi aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak...

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang
begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar
dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat
pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai
teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya
dan Eric.. Eric...

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan
sedih
saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang
terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun!
Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil
itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong
kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya...

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun
keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat
itu
saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil
untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di
belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan
seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!
Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini,
Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena
tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal
bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti
itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini.
Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk
menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...

"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy
marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy
harus
berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan...
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang,
Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini.
Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia
rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya.
Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila
melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-
nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya
yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.


.... (Comment this)

Ditulis oleh: Bayu at 2006/11/19 - 11:52:16
3 - Connecting to Heaven & Earth Messenger

Sign in...

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?

AKU :
Yang pasti saya tidak punya waktu
luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas
membebaskan waktu.

AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan
Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan
waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium
yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi,misalnya.

AKU :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa
hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia
tidak pernah merasa senang?

TUHAN :
Hari ini adalah hari esok yang kamu
khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu
menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa
senang.

AKU :
Tapi bagaimana mungkin kita tidak
khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.


TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena
ketidakpastian.

TUHAN :
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa
orang baik selalu menderita?

TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa
menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka
menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah
guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu,
baru pemahamannya.

AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui
semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas
dari masalah?

TUHAN :
Masalah adalah rintangan yang
ditujukan untuk meningkatkan
kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar
melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari
berleha-leha.

AKU :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan
ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...

TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu
tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.

AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan
membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat
oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat
olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan
terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau
sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan
orang lain berkejaran dengan waktu.

AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana
saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh
saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus
berjalan.
Selalu hitung yang harus kau syukuri,
jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

AKU :
Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya
"Mengapa harus aku?".
Jika mereka bahagia, tidak ada yang
pernah bertanya "Mengapa harus aku?"

AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya,
mengapa saya di sini?

TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi
tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi
sebuah proses penciptaan.

AKU :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang
terbaik dalam hidup ini?

TUHAN :
Hadapilah masa lalumu tanpa
penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU :
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak
dijawab.

TUHAN :
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU :
Terima kasih Tuhan atas chatting yang
indah ini.

TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah
untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

.........TUHAN has signed out



Best regards (Comment this)

Ditulis oleh: Bayu at 2006/11/19 - 11:59:18
4 - Hmmm gak salah kalo kamu salah satu orang yang ceriwis..?!!
Ini tercermin di blog ini.....
Kamu sangat cerewet tentang apa yang kamu lihat, rasakan, dan dengarkan...
Dan ini membuat kamu dapat membicarakan apa aja di sini...
Ada pendapat sebuah tulisan itu hadir karena kita pernah merasakan hal itu (entah dengan mendengar atau melihat sendiri)..Dengan begitu kita dapat menulis sesuatu yang orisinil.
Yee,....

Ok deh keep on creative..And be nice.. (Comment this)

Ditulis oleh: Gugup at 2006/12/12 - 02:20:50
Tulis komentar