Jumat, Maret 30, 2007

Aku Sudah Dapat Wajik nya , Mbak...

Bingung mulai dari mana... karena sedang dilanda kterkejutan mungkin..

Jadi begini ceritanya: dalam edisi terdahulu, pernah aku menyebutkan satu tokoh, meski nggak scr langsung, dmn dia adalah obsesiku. Yah anggaplah begitu. Meski sekarang nggak lagi. Sbetulnya antara kami –aku dengan dia, berhubungan baik sampe sekarang. (nggak ada alasan lah u/ nggak bersikap baik pd org yg memang bener2 baik dan care sama kita kan ya...). jujur, meski feeling nggak seperti dulu lagi, yg namanya “pernah -meski tidak lagi” itu kan beda dg “tidak sama sekali” kan?! Subjektivitas itu tetap ada di perasaanku, dia tetaplah istimewa dibandingkan org lain sampai sekarang.. meskipun nggak ada tendensi apapun dlm merasa seperti itu. Tahu lah pasti perasaan demikian...

Kebetulan temen kerja ada yang tetangga dengan mas nya itu.. nggak deket si, tapi dia tahu siapa dan bagaimana keluarganya. At last... di suatu pagi itu tiba2 si gadis ini membuka pembicaraan ttg masnya itu. Kurang lebih begini percakapannya:

Si Gadis       : Mbak, dah denger kabar tentang Masnya itu lg blm?

Na               : Nggak pernah ktemu ato sms lg belakangan, da pa ik?

Si Gadis       : Kok bisa? Hayo... napa ni...

Na               : Yeeeeeee, gpp lah.. dia siapa aku siapa harus selalu tau kabar ter up date

Si Gadis       : Berarti belum tau kan?

Na               : Opo maneh..

Si Gadis       : Aku udah dapet wajiknya lho, mbak...

Aku terdiam, bpikir apa maksudnya dengan sudah dapat wajiknya. Satu, dua, tiga menit sampe aku sadar. Ya wajik... bagi orang Jawa ada kebiasaan setiap pihak keluarga Laki-Laki yang melamar ke seorang perempuan akan mendapatkan paket makanan jajanan pasar yang salah satunya adalah Wajik (wajik itu terbuat dari beras ketan yang di olah dengan santan dan gula merah). Setelah sampai di rumah, wajik itu kemudian dibagikan ke para tetangga sebagai simbol bahwa anggota keluarga mereka telah melakukan lamaran ke seorang gadis. Ternyata begitu maksudnya...

Baguslah kalo memang begitu, memang udah waktu nya dia menikah. Ya semoga g salah milih deh. Bukannya org yg baik itu banyak tapi yg tepat itu cuma satu. Semoga dia mendapatkannya. Aku bener2 tulus berharap begitu, karena buatku semua udah beda nggak sama lagi seperti dulu. Awalnya juga heran, kok aku nggak sempat ngerasa sakit ya pas denger itu pertama kali. Kaget si iya, tapi wajar kan... selanjutnya ya udah seperti biasa lagi. Yah.. dia memang masih the best, belum tergantikan... Tapi aku bersyukur urusanku sama dia tuntas waktu itu, jd membuatku mudah untuk ngelupain dia. Untungnya ya...
Posted by nadia at 10:22:29 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Maret 23, 2007

aku nggak tahu apa yang istimewa dari lagu ini, tapi aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget...

 

Pertama kali aku terluka

Dalam setiap kata yang kau ucap Bila malam tlah tiba

Terkadang ingin kutulis semua

Perasaan..

 

Kata orang rindu itu indah

Namun bagiku ini menyiksa

Sejenak kuberpikir

Ingin kubenci saja dirimu

Namun sulit kubenci

 

Pejamkan mata

Bila...

Aku ingin bernafas lega

Dalam anganku aku berada

Di satu persimpangan

Jalan yang sulit ku pilih

 

Ku peluk indah semua hidupku

Cinta yang kurasa sangat tulus

Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa

Namun ada yang hilang separuh hidupku...

 

Bimbang by Melly

Posted by nadia at 10:11:09 | Permanent Link | Comments (1) |

Rabu, Maret 21, 2007

Ya Ampyuuun!!!

Sekitar seminggu yang lalu- aku lupa tepatnya hari apa, pas pulang kantor jam 5 an lah, aku ambil rute seperti biasa : RSUD dr Kariadi - Rinjani - Kaliwiru. Secara rumahku di daerah Semarang Atas dan kantor ada di Jalan Pandanaran, rute itulah  yang paling cepet dan nggak muter. Nggak kayak biasanya si.. sepanjang menuju RSUD ( deket lapangan Garnisun ) banyak sekali polisi berjaga, bingung dan panik. Aku tuh sangat phobia dengan yang namanya polisi. Sumpah deh.. pernah suatu ketika ada pemeriksaan kelengkapan surat kendaraan bermotor, aku mimisan di depan pak polisi nya!!!! malu2 in bangeeeeeeet. Padahal surat2ku lengkap. Tapi ternyata, bapak2 polisi yang ada di jalan Kalisari itu bukan sedang patroli, tapi mengamankan jalan di sekitar Polwiltabes untuk Upacara Penghormatan Terakhir Wakapolwil Semarang yang hari itu di tembak oleh anak buahnya.

Btw, aku bingung... seorang perwira polisi (yang tentu saja sudah melewati proses pendidikan selama bertahun2) telah menembak atasannya hingga tewas, meskipun semua tidak di rencanakan, tapi semua bersumber dari satu hal yang sulit diterima menurutku : sang penembak enggan di mutasi kan ke Polres Kendal. Ya ampyuuuuuuun.. Semarang - Kendal itu deket banget... padahal belum ke Maksar, Palembang ato Ambon kan?! masih sama2 Jawa Tengah, satu karesidenan malah... Tapi dengan kejadian itu, tentu saja semuanya selesai. Diluar masalah takdir, sikap emosional itu membuat keadaan menjadi lebih buruk.  Menyedihkan ya...

Satu lagi, tadi pagi jam 5 an kali ya... aku liat di Reportase Pagi seorang polisi melakukan upaya bunuh diri. Kalo nggak salah denger di daerah Sumatera Barat deh.. bapak Polisi ini katanya nggak kuat menahan cobaan karena isterinya yang sedang sakit nggak kunjung sembuh dan membutuhkan biaya besar tentunya. Karena kejadian itu di pikirkan untuk tes kondisi kejiwaan bagi polisi di lingkungan tersebut.

Aku si sempet mikir, emang selama ini nggak pernah ya?! mungkin dipikirnya seorang bapak polisi itu selalu taff, sangar dan nggak pernah drop... well, bapak polisi kan juga manusia, tentu punya sisi "lelah dan lemah" juga.. hanya saja mungkin dituntut untuk tidak memperlihatkannya karena posisinya sebagai "pelindung" masyarakat, sehingga harus selalu terlihat lebih kuat dari orang lain...

Ambil aja pelajarannya, emosional hampir nggak pernah menghasilkan sesuatu yg lebih baik... meskipun untuk tidak emosional ternyata lebih sulit. Percaya deh ketika kita tidak mengendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan tiga hal: Hati, perut, dan segala sesuatu yg berhubungan dengan hasrat biologis, itu pasti akan sangat merusak...

Posted by nadia at 09:59:51 | Permanent Link | Comments (1) |

Rabu, Maret 07, 2007

Kok Rasanya Sakiiiiiiiiiiit Banget...

Tiap bait nyanyian kekecewaan, atau puisi kesedihan selalu saja terasa tidak indah untuk dilantunkan, tidak nyaman untuk didengar, apalagi untuk dirasakan. tapi bagaimanapun ada sebuah kekecewaan dalam bingkai kenyataan!

Ternyata kekecewaan itu berasa menyakitkan. aku kecewa tapi entah harus menyayangkan apa. aku gagal dan itu menyakitkan. bukan karena aku tak cukup mampu, tapi karena faktor lain yg bukan dominan. dan itu smakin mebuat semuanya terasa lebih menyakitkan.

Satu pintu kesempatan telah tertutup untukku...

"Tuhan..." Begitu ucapku dalam hati,

"Aku pasrah."

"Smoga Tuhan tidak melupakan aku, jangan tinggalkan aku..."

Ya sudahlah... kukembalikan semua pada yg maha mempunyai dan memberi. mungkin ketika satu pintu kesempatan ditutup untukku, Dia sedang membuka pintu kesempatan yg lain bagiku...

Gagal itu memang terlalu menyakitkan untuk dirasakan, tapi aku nggak mau dihentikan kegagalan... 

Posted by nadia at 14:16:13 | Permanent Link | Comments (1) |